Kamis, 04 September 2008


SI CUMI DAN REVOLUSI
Oleh : Henrina


Sekarang aku telah tumbuh menjadi wanita yang tangguh dan berani, di tengah derasnya tantangan hidup aku berusaha mencari jati diriku. Sungguh indah hidupku, kenapa tidak. Setiap kali aku akan melangkahkan kakiku, air mata selalu saja setia menemani. Itulah gambaran hidupku dan aku bangga punya kehidupan seperti ini. Karena aku yakin bahwa aku dilahirkan ke dunia tentu menjadi seorang pemenang. Bayangkan, sejak awal pembuahan sel telur dirahim ibuku, aku sudah menjadi pemenang, begitu banyak saudara-saudaraku berlomba menembus sel telur ibuku, namun hanya aku yang berhasil. Itulah awal kemenanganku. orang tuaku menamakanku CUMBI MINATI, andai saja mereka mengajak aku diskusi waktu memberikan nama pastilah aku nggak mau dengan nama ini, tapi mustahil juga sebab aku masih bayi. namun, temen-temenku memanggilKU dengan sebutan CUMI ( bukan CUMA MIRIP, bukan pula CUMA MINJEM apalagi CUMA MINUM ). Sejak aku berusia 2 tahun ayahku pergi meninggalkan aku, tapi aku tidak tau dia pergi kemana, namun yang jelas dia tidak akan pernah kembali bersamaku, bersama ibuku, dan bersama ketiga saudaraku. Aku selalu mendengar suaranya, suara seorang lelaki yang penuh tanggungjawab ”Aku menunggumu disini anakku” kalimat itulah yang masih aku ingat, walau aku tidak tahu dimana dia menungguku. Tidak berhenti sampai disitu setelah usiaku menginjak 4 tahun, aku kembali dihadapkan pada sebuah kenyataan yang membuatku takut, tap aku harus berani menerimanya, walau itu terasa pedih, tapi ketegaran menuntutku saat memandangi rona wajah yang penuh bahagia dari seorang wanita yang dari rahimnyalah aku keluar, seorang wanita yang bagiku adalah pahlawan tanpa tanda jasa digandeng oleh seorang lelaki yang hingga kini lelaki itu tetap menemani pahlawan itu.”Apakah dia akan menjadi seorang ayah bagiku” tanyaku dalam hati. Padahal aku belum faham apa arti sebuah keluarga, fungsi ibu, dan fungsi kakak. Maklumlah diusiaku seperti ini mana bisa akalku di ajak berfikir sejauh itu. Tantantangan hidup kini mulai manghampiriku, berfikir cerdas dan produktif seakan kembali menuntutku. Mungkin karena aku telah berusia 11 tahun, tepat dibangku kelas lima SD. di usia inilah awalku mencari sepiring kemandirian. Sebuah usia yang seharusnya aku asyik menikmatinya. Namun alih-alih berkata lain aku harus bekerja untuk membiayai sekolahku, seandainya saja ada orang yang bertanya, apkah kamu bekerja anak kecil ? pastilah aku manjawab tidak. mungkin bagi teman-temanku itu adalah hal yang aneh, tapi bagiku menyenangkan. Hingga tibalah waktunya, kini aku telah berhasil menyelesaikan studyku. Aku pikir jalan untuk mewujudkan impianku melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi semulus kulit Agnes Monica.tapi ternyata... Dengan terpaksa aku harus mengurungkan niatku ketika wanita yang ku anggap pahlawan itu tidak mengijinkan aku. Tidak ada alasan lain, melainkan karena faktor ekonomi. Dulu waktu duduk dibangku SD, aku masih berani menanggung biaya sendiri. Tapi kali ini aku sedikit khwatir ”bisa nggak ya” keluhku. Maklumlah dipulauku tidak ada SMP, jadi kalau mau melanjutkan sekolah harus hijjrah kesapeken dan itupun harus kost pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan aku memahami itu, apalagi kaka’ku juga sekolah disana dan dia duduk dibangku kelas tiga. Kaka’ku mungkin lebih beruntung daripada aku, aku bangga punya saudara seperti dia, orangnya cantik, putih, rambutnya lurus panjang, ditambah lagi dia cerdas. Banyak orang bilang kalau aku bukan saudaranya dan bukan anak dari wanita yang ku anggap pahlawan selama ini. Aku sih sempat sedih. Namun apa mau dikata. Toh, mereka menilai aku dari apa yang mereka lihat. Aku nikmati hidupku selama setahun mulai dari jualan permenlah, stick romalah, sampai jualan pentol (kata orang sana sih ojek). Hingga tibalah saatnya tahun ajaran baru, sekolah sudah mulai menerima pendaftaran baru, dengan semangat 45 aku menceritakan niatku yang sempat tertunda untuk melanjukan study pada wanita yang ku anggap pahlawan itu. Bukannya gayung bersambut, eh.. ternyata niatku itu bertepuk sebelah tangan. Wanita itu lagi-lagi tidak memberikan izinnya buat aku, kali ini aku tidak tau apa alasannya. Masih dengan sikap optimisku untuk tetap sekolah, aku datang menemui seseorang dengan penuh khidmat, sekhidmat waktu para pejabat Negara sedang mengheningkan cipta untuk mengormati arwah para pahlawan dan dengan lirih aku mengatakan ”ambillah uangku ini dan tidak perlu kau kembalikan padaku, asalkan kamu mau mengantarkan aku. Aku janji aku akan menjdi wanita yang cerdas ”. Orang itupun terdiam dan membisu, namun aku tau otaknya sedang berfikir keras sambil memandangi uang senilai satu juta ditanganku itu. Perlahan dia menatap wajahku, dan sorot matanya yang tajam seperti sedang memanahku, akupun tertunduk sambil mengharapkan sebuah kalimat keluar dari mulutnya. ”ya, aku akan mengambil uang itu dan besok aku akan mengantarmu kesapeken ”. Mendengar kalimat itu bukan semangat 45 lagi yang terekspresikan malah air mataku seakan membanjiri wajahku yang lugu ( saking terharunya kali yaaa ) . ”oh..TUHAN, aku masih punya orang tua, tapi mengapa seakan aku hidup sendirian, selama setahun aku berusaha keras, agar aku bisa melanjutkan sekolah, sedangkan mereka........... ” aku tidak boleh begitu, membuyarkan perasangka negatifku. Akupun akhirnya bisa membuktikan kata-kataku waktu pertama kali aku diantar kesapeken, dari SMP sampai aku duduk dibangku kelas 3 SMA aku mungkin bisa dikatan anak yang pintar, nilaiku yang terpampang diatas kertas bagus, walau aku tidak mengerti apa arti sebuah perjuangan termasuk berjuang untuk mendapatkan nilai yang bagus,,mungkin karena aku tidak punya misi hidup saat itu . Walaupun prestasiku bagus, wanita yang ku anggap pahlawan itu dan lelaki yang sedang bersamanya tidak memberi respon lebih terhadap prestasiku, hingga akhinya akupun suntuk dan capek, ya begitulah model orang yang tidak punya misi hidup..boro-boro hadiah ucapan selamat saja tidak ada. Pernah aku duduk ditengah sekumpulan orang, diantara sekumpulan orang itu ada seorang Bapak-bapak yang mulutnya sampai berbusa-busa saking semangatnya menceritakan anaknya yang berhasil mengukir prestasi. Orang-orangpun semuanya pada ngangguk-ngangguk. Akupun kembali pulang kekostanku, tepatnya dikampung bukut. Perlahan aku buka pintu kamarku dan langsung merebahkan tubuhku dikasur ranjangku yang tidak empuk-empuk banget. Sambil sesekali aku teringat bapak-bapak tadi.Dari segi study aku memang oke dan aku akui itu, tapi ahklak dan moral hancur, maklumlah aku benar-benar kering spiritual, apalagi mulai dari keluArga, lingkungan, hingga teman-temanku pun benar-benar hidup dilingkungan sekuler ( akidah yang diwariskan oleh para isti'mar saat menjajah negeriku kurang lebih selama 350 tahun), jadi wajar saja kalau aku hancur-hancuran wong mereka juga hancur. Pernah pada suatu hari aku sedang berjalan didepan kantin Sekolahku ”..CUMI..”,teman-teman memanggilku, Akupun langsung menoleh dan menghampiri mereka,”eh, CUMI, jangan jadi kutu buku terus dong, berikan hak buat asmaramu juga”. Mendengar statement itu, Aku langsung meninggalkan mereka. Malam harinya rasanya aku sulit sekali memejamkan mataku, mungkin karena ingat pristiwa pagi tadi disekolah. Dasar anak tukang resek, mereka tidak tau siapa aku, awas yaa...kalimat itu seakan mengantarku pergi kenegeri kapuk. Negeri yang berbeda dengan duniaku.Siang itu hari sabtu, Aku sudah siap dengan barang-barangku karena hari itu adalah jadwalku PULKAM (pulang kampung). Setibanya disana aku bertemu dengan seorang lelaki ”wah ganteng juga ya” dalam hatiku kagum, Aku tidak menyangka ARFIN akan tumbuh menjadi laki-laki yang oke banget, maklumlah fisik sudah pasti menjadi prioritas utamaku dan temen-temenku, kalau punya cowok yang gimana getoe mendingan nggak usah punya dari pada harus menjadi bahan sindiran setiap hari.”eh, Si ARFIN sudah punya pacar belum ”, salah satu pertanyaanku pada saat kumpul dengan teman-teman. ”sudah..kamu naksir ya ?? " temen-temenku malah balik tanya. Aku Cuma tersenyum dan berlalu meninggalkan mereka. Pernah ada acara ORKES dikampungku, sungguh adegan yang menyakitkan sekali, ARFIN sedang bergandengan mesra dengan seorang wanita, wanita itu lumayan cantik dan serasi sekali dengan si ARFIN, secara Si Arfin juga ganteng, saking tidak kuatnya aku, terpaksa aku pulang sambil berteriak..tapi cuma dalam hati, ntar disangka gila kalau aku bena-benar teriak. Sepertinya dadaku sesak sekali.Pagi-pagi buta, aku sudah bangun kemudian duduk didepan rumah sambil menunggu kios kecil pahlawanku. Bagaikan disambar petir, Si ARFIN datang ”Assalamualaikum CUMI,,kapan pulang ,,tadi malem aku cari kamu lho” laporanya padaku pagi itu, namun aku hanya terdiam dan sedikit salah tingkah, maklumlah dulu aku sempat PACARAN dengan dia waktu aku masih kelas 3 SMP, tapi aku anggap itu hanya main-main, apalagi masih anak-anak. Dengan terbata-bata ”Aku masih lama disini,,oh,tadi malem aku ngantuk dan aku memutuskan untuk pulang” jawabku sediki ngawur. ”oh begitu ya,,soalnya tadi malam aku melihat kamu, tapi Cuma sebentar”.tambahnya lagi. Kini bayang-bayang masa lalu kembali menghantuiku, sepertinya CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI ( CLBK ),Tuhan kuatkanlah Iman di dadaku .........namanya lingkungan sekuler dan akhlak hancur-hancuran mana berani aku mengatakan pacaran itu dilarang agama, sok tau banget aku. Lagian aku dan mereka juga menikmatinya. Entah kenapa setiap kali aku bertemu dengan Si Arfin jantungku berdetak begitu cepat..seperti genderang mau perang...setiap ada kamu...aku sedang ingin bercinta............karena ada kamu disini...aku ingin........’’ Maukah kamu menjadi pacarku?”...” Maukah kamu menjadi pacarku?”...kalimat itu selalu mengawali hariku. Tidak tau kenapa aku berniat jalan-jalan kekampung selatan, sebuah kampung disasiil yang lumayan aneh, bukan karena orang atau rumahnya, tapi tanahnya yang gimana getoe, maklum kalau air laut sedang pasang, pasti dech kampung ini pada kotor semua jadi kaki kita juga ikutan kotor. " CUMI "......aku langsung menoleh,”sini,naik yuk,,ada yang mau ketemu sama kamu ”. ”siapa ?”...aku lansung naik dan ternyata Arfin ada disitu, ”Assalamualaikum CUMI, apa kabar....??”. salam itulah yang selalu keluar dari mulutnya yang tak pernah bisa aku lupakan, membuatnya beda dengan laki-laki lain setiap bertemu dengan aku..”Walaikumsalam ganteng...”. walah hanya dalam hati saja. ”ditanya ko malah bengong” tambahnya lagi. Aku Cuma terdiam dan sedikit ambangan-amnbangan meyoh.* seperti itulah raut muka dan sikapku tiap kali ketemu dia. Keringat dingin langsung membasahi sekujur tubuhku saat dia mendekat dan memegang kedua tanganku dan menatap mataku dalam-dalam. keimananku seketika runtuh ( dasar iman yang rapuh), saat dia mulai membimbingku untuk mengikuti dia. Hampir saja peristiwa gila itu terjadi,,seandainya saja kekasihnya tidak datang dan berteriak....CUMI.....CUMI.........CUMI, Akupun langsung kaget dan buru-buru bangkit dari tempat tidurku dan lansung keluar kamar. ”ada apa Bu??”..” Hari ini kamu nggak sekolah, ko tidurnya sampe siang,,sudah jam 7 tu.... ”.” Hari ini khan minggu” jawabku.”ooohh, iya yah..ko aku lupa, pantas nasiku cepat habis” kata Bu Kostku yang juga sedikit pelupa. Aku kembali ke kamarku dan mencoba mengingat-ngingat peristiwa tadi malam dialam kapuk..aku ketawa dan sedikit malu, hanya karena dapat julukan SI KUTU BUKU mimpiku nyasar kemana-mana..ternyata CUMI ( CUma MImpi).. heheheAku sudah selesai ujian nasional dan Alhamdulillah semua teman-temanku baik yang dari kelasku sendiri (IPA) maupun dikelas IPS lulus semua. Baik yang mereka otaknya pas-pasan atau mereka yang jarang nongol disekolah hingga mereka yang punya otak tingkat tinggi. Sebagian mereka ada yang sudah berangkat ke surabaya, malang, dan kota-kota lainnya untuk mengikuti SPMB. Namun aku sendiri masih duduk dan melamunkan hidupku, ” Ya Tuhan...haruskah perjuanganku berakhir sampai disini, sejak SD hingga SMA aku berusaha dengan susah payah agar aku bisa meneruskan sekolahlah ku walauhanya lewat biasiswa ”. Kini seakan harapanku pupus sudah, ” kuliah itu biayanya mahal sekali, sudahlah kamu tidak perlu bercita-cita setinggi langit, kalau punya ayah sih tidak apa-apa atau punya warisan misalnya ”.itulah kalimat yang kembali sang pahlawan katakan padaku saatku mengutarakan niatku. Tapi tekad itu tetap ada, aku lari pada seseorang yang dulu pernah mengantarkan aku ke sapeken ”pokoknya aku sudah tidak mau lagi membantumu, dulu waktu kamu mau melanjutkan ke SMA, kamu janji kalau biasiswa yang dari IMF akan kamu berikan padaku,,ehh ditengah perjalanan malau kau berikan sama sang pahlawanmu itu”. Akupun pulang dan kalimat yang tadi aku terima tak menyiutkan nyaliku karena aku selalu teringat pesan guru-guruku di SMA, bahwa aku pasti bisa. keajaibanpun datang ”CUMI...besok kamu bawa fotocopy rapormu, aku akan mengusahakn agar kam bisa kuliah ” suara bijaksana dari seorang lelaki siang itu. Tanpa basa-basi lagi aku langsung mempersipkannya semua. Tepat di akhir Agustus 2006 aku berangkat meninggalkan kampung halamanku dengan membawa segudang harapan perubahan ( revolusi kali..), dikapal, aku bertemu dengan seorang lelaki yang punuh kharisma. ”aku mulai tadi memperhatikanmu, kamu mau kemana??”tanyanya...”aku mau kuliah ke surabaya !!” kataku,”kuliah dimana dan namamu siapa ??”tanyanya lagi.”aku belum tau mau kuliah dimana, namaku CUMI , CUMBI MINATI!! ” jawabku agak bingung. ”semoga kamu baik-baik saja dan selamat sampai tujuan, lihatlah rambutmu..apa kamu tidak kasian melihatnya”...akupun langsung faham maksudnya, aku segera mengambil selendang dengan malu-malu aku tutup kepalaku. maklum Dia lulusan Al-Amien Perinduan namanya Kanjeng jadi paling tidak aku harus menghargainya. Percakapanpun terus berlanjut dan rasa ngantukpun menghampiriku........dan hingga TIBAlah aku.Kini aku sudah menjadi mahasiswi, aku sering mendengar ungkapan dari senior-seniorku bahwa kami sekarang adalah agent of change, walaupun aku tidak begitu faham MAKSUDNYA tapi aku berusaha untuk memahaminya. Ternyata hidup di tengah kota seperti ini membuatku sedikit bingung dan terasa ada yang kurang, entah apa itu aku tidak tau. kalau hanya sekedar bermodalkan semangat saja semuanya tidak cukup. Walaupun aku selalu berusaha untuk nmenemukan sosok diriku, selalu saja gagal. Sebenarnya apayang kurang dengan diriku,,ungkapan itu selalu menghantuiku dan aku harus bisa menemukan jawabannya agar tidak menjadi beban bagiku. suatu hari sepulang kuliah, aku berniat pergi ke musholla untuk sholat dzuhur, ketepatan saat itu ada KDI (Kajian Dienul Islam) yang diadakan oleh Anak UKKI, UKM yang khusus mengkaji tentang islam.”.......... belajar dapat bermanfaat meningkatkan mutu diri hanya jika dilandasi keyakinan tentang misi hidup. Bahwa hidup ini tidak sekedar menyibukkan diri penuhi hasrat dan kebutuhan. Namun lebih dari itu, misi hidup sejatinya adalah mengisi dunia ini dengan ketaatan kepada Allah sang pencipta.........”. Sepotong kalimat yang aku tangkap dari tausiyah di musholla siang itu. Akupun pulang dengan hati yang LEGA ( seperti menghapus dahagaku yang berlangsung bertahun-tahun ), pertanyaan yang selama ini menghantuiku sudah kutemukan jawabnya. Akupun ingat dengan kata-kata ayahku, sedikit teringat juga sama Si Kanjeng yang dulu pernah menegurku di kapal, kini aku semakin faham maksudnya. Sempat aku tertarik mencari tau keberadan Si Kanjeng dan inforrmasi terakhir yang aku dapat dia berada di Makassar dan aktif di Jamaah Tablig.Dengan penuh harapan aku datang ke keputrian UKKI, dan menyatakan maksudku untuk bergabung dengan mereka. Subahanallah mereka menyambutku dengan penuh antusias. Kajian demi kajian aku ikuti, hingga tepat di 7 juni 2007 aku memutuskan untuk merubah penampilanku, siapa tau dengan bernampilan seperti ini ghiroh untuk belajar itu tak pernah lekang, khususnya belajar dalam mengkaji ilmu islam. karena sekarang aku tahu misi hidupku ( bukan lagi seperti kapal yang berlayar ditengah laut tidak punya arah dan tujuan) Dari sinilah mataku mulai memandang jauh kedepan, mulai memikirkan kondisi masyarakat, negara, dan dunia. Akupun kembali ingat Si Kanjeng, seorang lelaki yang penuh kharisma, dan akupun ingat teman-temanku yang ada di SMA, khususnya TINA ingin sekali aku mengajak dia bersamaku berjuang dan menyelamatkan umat islam dari kehancuran dan melawan perang pemikiran yang dilancarkan oleh orang kafir setelah mereka mengganti perang fisik menjadi perang pemikiran yang sifatnya lebih halus dan sangat berbahaya ( dan aku adalah salah satu korbanya, Tina, dan orang-orang yang ada disekitarku ). Akupun sempat kenal dengan seorang laki-laki yang memiliki kecerdasan luar biasa dibanding teman-teman sebayanya, berinteraksi dengannya membuatku selalu hati-hati dan intropeksi diri. Darinya aku banyak mendapatkan ilmu, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu membuatku terinspirsi untuk berkarya.............hanya saja aku tidak bisa belajar banyak darinya karena ada tabir yang membatasi kami,,sampai sekarang aku selalu berdoa dan berfikir apayang akan aku bawa untuk keluargaku,temanku, dan pulauku agar mereka mau berjuang bersamaku dan saudara-saudaraku yang ada disini, ingin sekali aku berteriak di depan mereka dengan ungkapan HENTIKAN DIAM KITA......SAATYA ANAK PUTERI BANGKIT, BUBARKAN RACANA CINTA.....DAN JANGAN MAU DISEBUT RACUN DUNIA....KARENA KITA PUNYA PERAN PENTING DALAM MENBANGUN TATANAN HIDUP YANG GEMILANG....



* malu-malu kucing

1 komentar:

inang mengatakan...

pesan yang ana tangkap luar biasa, bs menggugah ghirah tuk slalu ikut ambil bagian dlm barisan terdepan mjadi pembela Islam.jazakillah